Rabu, 24 Oktober 2012

Puisi_ Wahai Burung Garuda saktiku_ Catatan Revolusi Kedewatan_ iedul buddha. (Jalan-jalan Ke Monas_ Jakarta.)



Burung Garuda Pancasila.
Puisi
Judul Puisi: Wahai Burung Garuda Saktiku.,,,
Karya: Ahmadalfaqir. Tatang Revan Affandie, S. Pop. Saja[h.]_ Karawang.

“Wahai Burung Garuda Saktiku.,,,”
“ Wahai Burung Garuda Saktiku.,,,
Seperti yang Engkau tahu
Bahwa Aku dari Sejak dahulu kala
Sampai dikeadaan waktu ini
Masih tetap berdiri kokoh dan tegap
Di atas Bapak. Pandu tanah persada Ibu Pertiwi,
Dan akan tetap selalu terus berdiri sampai tak berujung waktu.

Burung Garuda Saktiku.,,,
Aku melihat dengan jelas,
Jelas yang sejelas-jelasnya
Diantara dua bola mata-Mu ada Air Mata
Yang Khendak menetes Mengalir Menjadi Aer Dharma Kerakhmatan,
Menjadi obat Penawar untuk Rumput semak belukar
Agar kembali menjadi Pohon Tiin dan Jaitun
Berbuah Khuldi yang Rasanya Manis Anyleng dan Lezat sekali,
(Oleh-oleh dari Revolusi Kedewatan_ red.)

Burung Garuda Saktiku.,,,
Engkau akan terus diatas Puncak Ketinggian selalu
Tetap menyatu bersama Warna Jingga dilangit Lintang Gytara,
Memancarkan Cahaya “Kayas” dari dalam dadamu
Bersinar tanpa henti
Membaur bersama Sinar Mentari yang Kekal Abadi.

Burung Garuda Saktiku.,,,
Sesungguhnya Jagad Raya Alam raya dikemestaan
Sejak zaman dahulu kala hingga Masa tak terhingga
Jagad Raya Se-Mesta akan selalu berada dalam paruhmu,
Dan Sang. Surya _ Sang. Murube ning Alam Raya akan selalu
Berada pada kedua Mata Kaki insani_  Manusia Indonesia Sejati.
Menjadi Rakhmat dan kerakhmatan bagi alam Indonesia Raya ini.

Oh.,,, Burung garuda Saktiku.,,,
(Hasil Kajian Kehidupan pertanggal tahun September 2012. Tatang Afandi.)
Ternyata Benar ….
Mereka masih tertidur lelap, lelap-selelap lelapnya,
Bahkan diantara mereka ada yang mengigau sambil mabuk  keras.
( Mengidap penyakit Gila yang susah untuk disembuhkan_ Sukaaarooo.,,,)
Tapi biarlah tidak menjadi Mengapa.,,,
Biarkan saja mereka Gila sampai pada waktunya tiba,
dan pulang untuk Kembali ketempat kehidupannya yang kekal Abadi,
Hidup untuk Kehidupan serta Penghidupannya yang sentausa untuk Hidup selama-lamaya.

Burung Garuda Saktiku.,,,
Biji[h.] (biji) yang Engkau berikan kala itu,
Kini telah menjadi Pohon Padi
Telah Aku semai dan tanam kembali
Disawah Bengkok Sukatani
(Benih Padi Aku namai_ Padi. Sana Jatiwangi_ Sacral.)
Pohon Padi. Sana Jatiwangi yang kini telah menguning dan berisi
Sebentar lagi Akan menjadi Bibit,
dari tunas-tunas Baru Pemimpin Negeri Indonesia Raya diesok hari.”
[Revolusi Kedewatan_ Misi: Action Success, iedul Buddha.]

Puisi ini ditulis ketika jalan-jalan Ke Monas_ Jakarta.
(Posisi:  Jakarta_Monas Menghadap Air mancur, Lampu hijau Menuju Stasiun kota.)
(Selasa, 23 Oktober 2012 Masehi Pukul. 22.10 Wib Monas_Jakarta. Tatang Afandi_Karawang.)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar